Daging ayam yang merupakan sumber protein disarankan dikonsumsi sesuai dengan kadar atau porsi yang sesuai. Selain karena menjadi sumber protein, pengolahan daging ayam yang mudah menjadi salah satu alasan mengapa banyak orang yang membuka usaha kuliner seputar masakan ayam. Misalnya saja seperti ayam geprek, fried chicken, ayam panggang dan lain sebagainya. Permintaan yang meningkat dan stok yang kosong bisa menimbulkan naiknya harga daging ayam.
Penjual bisa memberikan harga untuk daging ayam satu ekor utuh atau menjualnya sebagai ayam potong. Pembeli akan menyesuaikan dengan kebutuhannya. Jika Anda termasuk yang suka mengolah daging ayam untuk di rumah sebagai santapan bersama keluarga, daging ayam potong lebih disarankan karena mudah dalam pengolahannya.
Faktor Naiknya Harga Daging Ayam
Harga dari daging ayam seringkali mengalami kenaikan. Hal ini tentu dikarenakan beberapa faktor. Mulai dari permintaan yang tinggi, stok yang kosong dan bisa jadi karena dampak cuaca. Meski beredar berita yang masih simpang siur soal harga naik karena penimbunan, pihak dari Kemendag sendiri menyangkal hal tersebut. Sebab, daging ayam dan telur merupakan komoditas yang tidak bisa ditimbun karena bukan barang tahan lama.
1. Penurunan Produktivitas
Penyebab pertama dari tingginya harga daging ayam adalah karena penurunan produktivitas. Biasanya pengaruh dari obat-obatan yang juga dikurangii. Tingkat produktivitas yang menurun juga harus dilakukan penelitan mulai dari dinas sampai dengan kementerian. Dari pihak kementerian sendiri sudah sepakat bahwa akan ada pengurangan obat-obatan agar ayam bisa lebih sehat terutama antibiotik. Namun juga berisiko terhadap tingginya angka kematian dan lain sebagainya.
2. Penurunan Supplai
Tak bisa dipungkiri bahwa penurunan suplai ke pasar juga jadi penyebab dari naiknya harga daging ayam. Penurunan supplai ini bisa terjadi karena hari libur lebaran atau hari-hari besar lainnya. sebab pasokan ke pasar bisa berkurang sementara untuk permintaan tetap meningkat. Tradisi yang berkembang di masyarakat Indonesia adalah berbagi makanan atau mengadakan tasyakuran saat mendekati atau jelang hari raya atau hari besar keagamaan. Tak heran jika permintaan terhadap daging ayam juga meningkat.
3. Pihak yang Curang
Ada alasan tersendiri mengapa sidak pasar atau operasi harga di pasar dilakukan. Tak lain karena ada beberapa pihak yang curang. Masih ada beberapa penjual yang menaikkan harga untuk mendapat keuntungan yang lebih besar terlebih ketika ada momen atau peringatan hari besar. Faktor ini juga yang terakumulasi sehingga pasokan dan pendistribusian relatif terganggu. Mendekat lebaran, pihak yang terkait akan melakukan operasi atau sidak pasar agar bisa memantau harga bahan-bahan pokok langsung di pasar dan menegur penjual yang memainkan harga tidak semestinya.
4. Cuaca Ekstrem
Faktor cuaca ekstrem di sejumlah wilayah yang menjadi sentra peternakan akan mengganggu kestabilan harga daging ayam. Apalagi hal ini juga mempengaruhi produktivitas dari ayam itu sendiri. Maka dari itu dalam perawatan peternakan ayam harus sesuai dengan standarnya. Peternak juga harus memiliki pengetahuan lebih soal perawatan ayam saat cuaca ekstrem.
Satu daerah dan daerah lain memang bisa jadi berbeda harganya. Hal ini juga bergantung dari kondisi peternakan di wilayah tersebut. Bagaimana pendistribusiannya pada wilayah yang bersangkutan. Harga daging ayam bisa mengalami kenaikan atau penurunan melihat faktor yang menyertainya.
Naiknya Harga Daging Ayam Karena Permintaan Meningkat
Seperti yang disebutkan sebelumnya bahwa salah satu faktor dari kenaikan harga daging ayam adalah permintaan meningkat tetapi stok kosong. Pada awal tahun 2021, permintaan atau demand terhadap daging ayam dan turunannya ternyata membawa dampak bagus untuk emiten yang ada di sektor perunggasan. Meski ditengah pandemi ternyata tidak mempengaruhi kebiasaan masyarakat untuk mengonsumsi daging ayam atau telur. Bahkan, harga daari ayam broiler sendiri juga diproyeksikan mengalami kenaikan.
Kebutuhan daging ayam dan semua yang terkait dengan unggas memang terbilang masih cukup kuat bahkan pertumbuhannya masih tercatat terjadi penguatan. Yang menjadi masalah ada pada laba bersih yang terpantau turun cukup signifikan karena depresiasi nilai tukar rupiah. Penyediaan bahan baku pakan ternak juga berasal dari impor yang mana bisa menggerus perolehan dari laba bersih.
Beralih pada tingkat konsumsi daging ayam di masyarakat Indonesia ternyata baik. dalam waktu beberapa tahun terakhir, industri unggas cukup tumbuh pesat. Selain karena pengolahan yang mudah, rasa yang lezat dan kegemaran masyarakat dalam mengolah daging ayam, protein dan kandungan gizi di dalam daging ayam sangatlah bagus untuk tubuh dan kesehatan kita.
Dari pihak Kementerian Kesehatan Indonesia juga melakukan seruan agar masyarakat meningkatkan konsumsi daging ayam agar asupan gizinya juga bagus. Dari sinilah nanti akan muncul sumber daya manusia yang berkualitas dan bisa tercapai sesuai dengan visi misi pemerintah.
Tidak hanya itu saja, ditengah pandemi ini kualitas hidup sangatlah menentukan apakah kita bisa terhindari dari berbagai penyakit yang mengintai. Kementerian terkait menggalakkan peningkatan konsumsi ayam dalam negeri dan selamatkan peternak dan peningkatan gizi. Bahkan, Kementerian Pertanian juga merlis kampanye yang disebut dengan Gemaya atau Gerakan Makan Ayam.
Gerakan ini mengajak masyarakat untuk meningkatkan konsumsi daging ayam sehari-harinya. Harapannya adalah bisa membantu kelangsungan bisnis peternak ayam yang ada di seluruh Indonesia. Harga daging ayam yang naik tentu bisa kembali stabil jika penyebabnya bisa diatasi termasuk permintaan yang tinggi.
Gemaya atau Gerakan Makan Ayam merupakan kampanye belajar bagi masyarakan Indonesia bahwa untuk mengonsumsi daging ayam Anda tak perlu khawatir. Daging ayam justru memberi asupan gizi yang bagus dan penting untuk kecerdasan. Selain itu, kampanye Gemaya juga diharapkan bisa membantu para peternak yang ada.
Pasokan ayam di Indonesia sendiri disebut melimpah. Harga daging ayam juga pernah menadi turun. Produksi daging ayam di Indonesia bisa mencapai 3 juta ton. Sementara untuk kebutuhan masyarakat terhadap daging ayam rata-rata adalah 2.2 juta ton dan inilah yang ada kelebihan pasokan 800.000 ton.
Pasokan daging ayam yang berlebih juga disebabkan karena rendahnya konsumsi daging ayam. Data dari BPS atau badan pusat statistik, konsumsi daging ayam di Indonesia mencapai 12,79 kg per kapita per tahun. Ternyata hasil perhitungan ini masih lebih redah dari Malaysia.
Rata-rata harga daging ayam saat ini adalah Rp. 35.000 per kilogram. Berbeda lagi jika Anda membeli jenis ayam broiler yang harganya bisa lebih tinggi atau mahal. Jelang tahun baru atau hari besar lainnya, ingat bahwa harga bisa melonjak. Maka dari itu tak ada salahnya untuk ikut memantau bagaimana pergerakan harga daging tersebut.
Ada banyak penyebab atau faktor dari naik turunnya harga daging ayam di pasaran. Namun, di Indonesia sendiri harga yang tinggi tak menyurutkan masyarakat untuk melengkapi asupan gizinya melalui daging ayam. Sebab, daging ayam adalah sumber protein yang baik. Anda bisa membeli daging ayam yang halal, higienis, bersih dan terjangkau melalui kirimayam.




